Japan Trip: Tokyo Disneysea

Setelah sehari sebelum nya kami bermain di Disneyland, hari ini saya dan Ray akan bermain di Disneysea. Disneysea adalah “second gate” dari Disneyland dan hanya ada di Tokyo, Jepang. Sesuai namanya, wahana-wahana permainan dan suasana di Disneysea bertema laut dan kebanyakan lebih ditujukan untuk remaja atau orang dewasa dibanding anak-anak. Untuk mencapai Disneysea, saya dan Ray menggunakan shuttle bus dari hotel kami Mystays Shin-Urayasu, kami berangkat pukul 10 pagi dan karena sudah membeli tiket di hari sebelumnya, di pintu masuk kami cukup men-scan tiket kami saja.

Inside the Disneysea…

Setelah masuk ke dalam, kami langsung disambut suasana kota pelabuhan Italia dan Gunung¬†Prometheus di kejauhan yang meletus mengeluarkan asap dan api setiap 1 jam sekali. Wahana pertama yang kami tuju adalah Toy Story Mania, awalnya hanya untuk mengambil Fast Pass tapi karena ternyata antriannya belum terlalu ramai sementara jam yang tertera di Fast Pass adalah jam 9 malam, maka kami pun memutuskan untuk langsung mengantri saja. Setelah bermain, sambil foto-foto di sepanjang American Waterfront, kami menuju wahana selanjutnya¬†Aquatopia.¬†Sama seperti di Disneyland, antrian wahana di Disneysea hari ini bersahabat, sehingga sebelum makan siang, Ray masih sempat bermain di wahana¬†Raging Spirit¬†dengan memanfaatkan keuntungan menjadi single rider karena wahana roller coaster ini tidak diperbolehkan bagi bumil. Setelah Ray selesai bermain, kami pun makan siang di¬†Sebastian’s Calypso Kitchen yang terletak di dalam Mermaid Lagoon.

Selesai makan siang, kami bermain hingga sore di¬†beberapa wahana seperti Sindbad’s Storybook Voyage, Disneysea Transit Steamer Line dan 20.000 Leagues Under The Sea. Ray juga mencoba wahana¬†Journey to The Center of The Earth¬†sementara saya foto-foto dan jajan hotdog sambil menunggu. Sore nya kami berjalan-jalan menyusuri¬†Fortress Explorations di Mediterranean Harbour.¬†Kami juga mencoba peruntungan ikut undian untuk menonton pertunjukan Broadway Jazz, Big Band Beat. Saya beruntung karena mendapat reserved ticket sementara Ray tidak. Akhirnya diputuskan saya menonton pertunjukan Big Band Beat sendiri sementara Ray mencoba wahana¬†Tower of Terror yang letaknya tidak berjauhan. Saat saya selesai menonton pas sekali dengan saat Ray selesai bermain. Kami pun membeli ice cream lalu naik wahana¬†Venetian Gondolas.¬†Diiringi nyanyian pengayuh gondola¬†dan ditemani¬†pemandangan senja¬†serta¬†Gunung¬†Prometheus yang menyemburkan asap nya ke udara, kami pun mengakhiri hari di Disneysea.

 

Jojo – xx

Advertisements

Japan Trip: Tokyo Disneyland

Pergi ke Disneyland adalah satu dari sekian banyak mimpi saya, maka nya saya sangat menunggu-nunggu perjalanan hari ini. Saking excited nya, saya bangun pukul 7.00 pagi waktu setempat dan langsung bersiap-siap karena tidak mau ketinggalan shuttle bus dari hotel kami Mystays Shin-Urayasu menuju Disney Resort. Setelah membeli sarapan di vending machine, saya dan Ray mengantre di lobby hotel untuk naik shuttle bus bersama pengunjung hotel lain. Tepat sesuai waktu yang tertera di jadwal, shuttle bus tiba dan kami pun berangkat menuju Disney Resort. Di jalan, saya sudah girang sendiri melihat Disney Resort Line yang kereta nya bergambar karakter-karakter Disney dan jendela nya berbentuk siluet Mickey Mouse. Jalur kereta ini berbentuk lingkaran dan menjadi penghubung dari Stasiun Maihama ke seluruh destinasi di Tokyo Disney Resort.

Bus berhenti di tempat parkir Disneyland, tidak jauh dari loket tiket. Maka setelah foto-foto berlatarkan Tokyo Disneyland Hotel kami pun bergegas membeli tiket di loket yang antrian nya masih kosong. Karena besok kami berencana mengunjungi Disneysea, maka saya membeli 2-Days Passport seharga 13.200 yen per orang. Lumayan mahal, maka nya kami bertekad untuk naik wahana sebanyak-banyak nya di sana! Untung wahana di Disneyland kebanyakan bumil dan kids friendly, jadi saya bisa ikut bermain.

Inside the Disneyland…

Setelah masuk ke Disneyland, wahana pertama yang kami naiki adalah Pooh’s Hunny Hut. Bagi kami berdua, wahana ini adalah wahana yang antrian nya paling lama selama kami bermain di Disneyland, kami mengantri sekitar 60 menit sebelum akhirnya bisa naik. Lucky for us, wahana lainnya tidak sampai selama itu.¬†Setelah main Pooh’s Hunny Hut,¬†kami masuk ke Haunted Mansion yang saat itu antrian nya hanya 10 menit karena sedang ada parade. Setelah selesai bermain Haunted Mansion kami berpindah ke Tommorowland untuk bermain di¬†wahana Monster Inc. Ride & Go Seek¬†sekalian¬†bermain¬†Grand Circuit Raceway dan banyak-banyakan score menembak di¬†Buzz Lightyear’s Astro Blasters. Menjelang siang, karena sudah waktu nya makan, kami pun berhenti bermain untuk makan curry rice di ¬†Hungry Bear Restaurant.

Perut sudah terisi, saat nya main lagi! Sepanjang siang ke sore, kami masuk ke Minnie’s House dan juga main di¬†beberapa wahana seperti¬†Roger Rabbit’s Car Toon Spin,¬†Peter Pan’s Flight dan yang paling berkesan bagi saya; wahana¬†Pirates of The Caribbean. Kami juga sempat menonton Parade “Happiness is Here” yang bagi saya lucu dan menyenangkan.

Menjelang sore, setelah menaiki wahana Jungle Cruise: Wildlife Expeditions, hujan¬†pun turun sehingga kami memutuskan untuk masuk ke¬†Cinderella’s Fairy Tale Hall¬†(istana Cinderella) sekalian berteduh. Untung hujan¬†nya tidak lama, sehingga kami masih sempat bermain¬†Snow White’s Adventures, jajan di Huey, Dewey and Louie’s Good Time Cafe sebelum akhirnya menutup hari di Disneyland dengan menonton Tokyo Disneyland Electrical Parade Dreamlights yang terlalu keren untuk diceritakan!

Pukul 8 malam, kami kembali ke hotel untuk beristirahat setelah sebelum nya mampir ke Ikspiari Shopping Mall dan makan ramen di Hidakaya. Hari yang sangat menyenangkan!

 

Jojo – xx

Japan Trip: Kyoto

Kyoto adalah kota yang terkenal akan situs bersejarah nya. Kota ini dapat ditempuh dalam waktu 45 menit dari Stasiun Shin-Osaka. Setelah berkeliling di Osaka sehari sebelumya, saya dan Ray pergi ke Kyoto menggunakan kereta JR Special Rapid dengan membawa semua barang kami (karena sekalian check-out dari hotel). Sesampainya di Stasiun Kyoto, kami segera menitipkan barang-barang kami di loker stasiun dengan koin 500 yen dan hanya membawa 1 backpack yang berisi barang-barang yang kami butuhkan agar tidak ribet menggeret koper. Setelah membeli bakpao babi untuk sarapan di counter Horai 551 dan beberapa botol air mineral, kami pun memulai perjalanan kami di Kyoto.

Arashiyama Bamboo Groove dan Tenryu-Ji Temple

Tujuan pertama kami di Kyoto adalah Arashiyama Bamboo Groove. Saat turun di Stasiun Arashiyama, kami berdua terpukau karena udara yang terasa bersih dan pemandangan yang masih hijau dan berkesan old-school seperti di film-film ninja. Kami berjalan kaki mengikuti arahan Google Maps ke Arashiyama Bamboo Groove dan disambut dengan beberapa warung makan kecil di depan jalan setapak menuju rerimbunan pohon bambu. Sambil foto-foto, kami terus menyusuri jalan setapak berbatu di Arashiyama Bamboo Groove sampai akhirnya tiba di depan pintu masuk Tenryu-Ji Temple yang terkenal dengan zen garden nya. Berbeda dengan Arashiyama Bamboo Groove yang dapat dinikmati secara gratis, untuk masuk ke Tenryu-Ji Temple pengunjung diharuskan membayar 500 yen, akhirnya setelah membeli tiket kami berdua masuk ke kuil tersebut dan foto-foto di dalam nya. Sama sekali tidak rugi, karena setiap sudut taman dan kuil di Tenryu-ji bagus dan instagenic.

Fushimi Inari-Taisha

Setelah puas berkeliling Arashiyama dan waktu sudah menunjukan pukul 1 siang, kami makan di salah satu warung soba kecil di pintu masuk Arashiyama Bamboo Groove lalu melanjutkan perjalanan ke Fushimi Inari-Taisha, kuil yang terkenal dengan barisan 10.000 gerbang (torii) berwarna merah. Di Fushimi Inari-Taisha kami mendaki ke Gunung Inari mengikuti barisan torii. Semakin atas pengunjung nya semakin sepi dan suasana pegunungan semakin terasa, gemericik air sungai dan sejuknya hawa pegunungan menemani sepanjang perjalanan. Setelah puas, kami duduk beristirahat sejenak lalu jajan di stall makanan yang ada disana. Ray senang bisa menemukan salah seorang pedagang yang menjual seiris besar daging babi yang ditusuk, dibakar dan dimakan dengan saus sambal, sementara saya membeli buah mangga merah potong yang dibekukan dan diberi siraman susu kental manis di atas nya. Benar-benar berkesan.

Dari Fushimi Inari-Taisha, kami kembali ke Stasiun Kyoto untuk mengambil barang-barang kami dan menukar kembali kartu ICOCA dengan uang deposit kartu (500 yen per kartu) di JR Office. Sekedar saran, jika ingin menukar kartu ICOCA dan isi nya tinggal sedikit, sebaik nya belanjakan isi kartu di convenience store karena jika masih ada saldo nya, akan terpotong handling fee. Selain menukar kartu, kami juga sekalian membeli tiket Shinkansen Nozomi dengan tujuan Tokyo seharga 13.080 yen per orang karena rencana nya kami akan menginap di Tokyo malam ini. Sambil menunggu kereta datang, kami membeli makanan di convenience store untuk bekal di Shinkansen karena perjalanan Kyoto-Tokyo akan memakan waktu yang cukup lama. Oh iya, Walaupun makan dan minum tidak dilarang di kereta antar kota seperti Shinkansen Nozomi, namun hal tersebut dianggap tidak sopan jika dilakukan di kereta dalam kota.

Saat kereta datang, saya dan Ray bergegas mencari tempat duduk karena kami membeli tiket untuk gerbong unreserved seat untuk mengirit. Kereta nya bagus dan bersih, jarak antar kursi nya pun luas, rasanya seperti berada di pesawat kelas bisnis. Dengan kecepatan hingga 302 km/jam, jarak Kyoto-Tokyo (yang setara dengan Jakarta-Surabaya) ditempuh dalam waktu 2 jam. Pukul 7.30 malam waktu setempat, kami sudah tiba di Stasiun Tokyo, membeli kartu SUICA di JR Office untuk naik kereta dan bus selama di Tokyo, makan malam di Coco Ichibanya Curry lalu check-in di hotel Mystays Shin-Urayasu dan beristirahat karena besok Disneyland menunggu!

 

Jojo – xx

Japan Trip: Osaka

Japan trip kami dimulai di kota Osaka. Untuk mencapai kota ini dari Jakarta, dibutuhkan waktu kurang lebih 8 jam 50 menit dengan 1 kali transit di Kuala Lumpur. Karena saya memilih flight dengan waktu transit yang cukup panjang, maka saat transit di Kuala Lumpur kami bisa beristirahat (makan malam dan tidur malam) dengan nyaman di Tune Hotel KLIA 2 untuk melanjutkan terbang ke Osaka di pagi hari nya. Kami memang pada akhirnya lebih mengutamakan kenyamanan di perjalanan kali ini karena sebulan sebelum berangkat ke Jepang saya hamil dan karena alasan itu pula, kami terpaksa mencoret Universal Studio Japan dari itinerary karena percuma pergi kesana kalau saya tidak bisa naik apa-apa.

Sampai di Osaka sudah pukul 3 sore waktu setempat, saya dan Ray segera pergi ke counter ABC di airport untuk mengambil wifi portable yang kami sewa. Setelah mengambil wifi portable, kami beli beberapa onigiri dan minum di convenience store untuk mengganjal perut sebelum pergi ke JR Office untuk membeli ICOCA Card. ICOCA adalah kartu yang akan kami gunakan untuk menaiki transportasi umum (kereta dan bus) selama kami berada di OSAKA. Untuk mengirit biaya, kami langsung membeli kartu ICOCA yang sepaket dengan tiket kereta Haruka (kereta express dari bandara ke pusat kota) seharga 3.300 yen. Dengan kereta Haruka, jarak antara bandara dan Stasiun Shin-Osaka hanya ditempuh dalam waktu 50 menit saja.

Di Stasiun Shin-Osaka karena perut sudah lapar, kami makan malam di salah satu restaurant udon yang sampai sekarang saya tidak tahu nama nya karena ditulis dalam bahasa kanji hehe udon nya enak dan harga nya di bawah 500 yen. Budaya makan di tempat makan Jepang ternyata berbeda dengan di Jakarta, disini sesudah makan kita harus merapihkan sendiri peralatan makan kita dan meletakkan nya di tempat yang sudah disediakan. Menarik. Sesudah mengisi perut dengan mengandalkan Google Maps, kami pun berjalan kaki ke hotel kami, Hotel Mystays Shin-Osaka yang letaknya tidak terlalu jauh dari stasiun lalu langsung check-in dan beristirahat.

Keesokan hari nya…

Kami bangun sekitar pukul 8 waktu setempat lalu bersiap-siap pergi ke Kebun Binatang Tennoji. Di tengah jalan, kami mampir ke convenience store untuk membeli sarapan dan bekal beberapa jenis onigiri dan minuman (yang semua nya enak dan fresh) lalu naik kereta ke arah Stasiun Tennoji dipandu oleh situs Hyperdia walaupun sempat deg-degan karena banyak yang bilang sistem kereta api di Jepang membingungkan, tapi bagi saya selama punya kartu ICOCA dan situs Hyperdia, sistem kereta api nya tidak membingungkan sama sekali. Hampir sama dengan MRT di Singapore, namun dengan platform yang lebih banyak saja.

Osaka Castle

Karena ternyata Tennoji Zoo tutup setiap hari Senin, kami pun langsung memutuskan untuk pergi ke Osaka Castle. Untuk menuju kesana, kami turun di JR Osakajokoen Station karena stasiun ini yang terdekat dari Osaka Castle. Di Osaka Castle, kami foto-foto dan jalan-jalan di taman nya. Kami juga sempat jajan ice cream matcha dan corndog disana. Setelah puas menyusuri Osaka Castle dan mulai lapar, kami pun naik kereta ke Nihonbashi Station untuk pergi ke Kuromon Ichiba yang terkenal sebagai The Kitchen of Osaka.

Kuromon Ichiba & Dotonbori Area

Di Kuromon Ichiba yang berbentuk seperti pasar kami sempat membeli beberapa jajanan khas seperti tako tamago, kushikatsu, kaitenyaki dan ichigo daifuku. Karena perut masih lapar, dari Kuromon Ichiba kami berjalan kaki ke Dotonbori. Di Dotonbori kami mencoba ramen paling famous yang antrian nya mengular dan pemesanan nya dilakukan dengan menggunakan vending machine, Ichiran Ramen. Setelah itu kami masih menjejali perut kami dengan takoyaki dari Creo-Ru, juga cheese cake dan ice cream matcha dari Pablo Cheesecake (yang sekarang sudah buka cabang di Jakarta) masih penasaran dengan jajanan lain tapi perut rasanya sudah mau meletus dan jam juga sudah menunjukan pukul 7.00 malam, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke Umeda City karena Ray mau melihat-lihat sepatu di ABC Mart lalu kembali ke hotel dan beristirahat karena besok berencana untuk day trip ke Kyoto.

 

Jojo – xx

Japan Trip: Preparations

Tiket Pesawat

Sejak sebelum menikah, saya dan Ray sudah berangan-angan untuk bisa pergi ke Jepang. Karena nya beberapa bulan setelah kami menikah dan kebetulan mendapat rezeki tambahan, kami pun hunting tiket murah ke Jepang. Tiket pertama yang kami beli adalah tiket one way Jakarta-Osaka dari promosi AirAsia seharga Rp 3.400.000,- untuk berdua. Sebulan kemudian baru kami membeli tiket pulang one way Tokyo-Jakarta dari Philippines Airlines seharga Rp 5.900.000,- untuk berdua. Kenapa landing dan take off di kota yang berbeda? Karena rencana nya kami mau mengunjungi Universal Studio Japan di Osaka dan Disneyland Resort di Tokyo. Lagipula dengan begitu juga kami jadi bisa mencicipi rasanya naik bullet train tercepat di dunia, Shinkansen Nozomi.

Akomodasi dan Wifi Portable

Tiket pesawat sudah dibeli, persiapan selanjutnya yang kami lakukan adalah membooking hotel. Saya melakukan booking hotel dari jauh-jauh hari agar harga nya lebih murah melalui situs Booking.com karena melalui situs tersebut kita bisa booking hotel tanpa bayar terlebih dahulu dan bayar kemudian saat check-in. Saya juga melakukan booking untuk penyewaan wifi portable dengan merk Pupuru karena setelah membanding-bandingkan dengan beberapa merk, merk tersebut memang lebih murah. Booking nya pun mudah.

Pengajuan VISA Jepang

Karena saya sudah menggunakan e-passport, maka untuk pengurusan VISA saya hanya perlu datang ke Kedutaan Jepang dengan membawa passport saya dan formulir VISA waiver yang sudah diisi dan diprint. Sangat mudah, gratis dan dalam 1 hari kerja VISA kunjungan 15 hari yang berlaku 3 tahun langsung jadi. Berbeda dengan saya, karena masih menggunakan passport conventional, Ray harus membawa beberapa dokumen saat mengajukan permohonan VISA di Kedutaan Jepang. Dokumen-dokumen tersebut berupa:

– Passport yang masih berlaku minimal 6 bulan ke depan
Formulir permohonan visa
– Pas foto background putih (4,5 X 4,5 cm)
– Foto kopi KTP
– Print-out bukti pemesanan tiket (print-out tiket pesawat dan bookingan hotel)
– Itinerari selama perjalanan di Jepang/jadwal perjalanan dalam format khusus
– Foto kopi Surat Nikah
РFotokopi rekening tabungan selama 3 bulan terakhir (sebenarnya tidak ada minimum jumlah saldo tertentu, tapi kalau bisa jumlah minimum nya Rp 1.500.000 x jumlah hari stay di Jepang)
– Surat keterangan dari Bank

Selain membawa dokumen-dokumen yang disusun rapi sesuai urutan yang tersebut, Ray juga harus membayar sebesar Rp 330.000,- untuk VISA kunjungan sementara.

Saya dan Ray memutuskan untuk membeli tiket Universal Studio dan Disneyland Resort on the spot saja karena menurut salah satu teman kami harga nya akan lebih murah. Sementara untuk tiket Shinkansen, karena kami hanya akan memakai Shinkansen untuk perjalanan dari Osaka ke Tokyo, kami tidak membeli JR Pass karena JR Pass hanya mengirit biaya jika berniat untuk berpindah daerah lebih dari 1 kali di Jepang.

Jojo – xx

Our Honeymoon at Jeeva Klui Lombok

2 hari setelah menikah, saya dan Ray langsung terbang ke Lombok untuk honeymoon. Rencana honeymoon yang cukup mendadak mengingat kami baru membeli tiket pesawat 1 hari sebelum terbang ke Lombok! Walaupun begitu, untuk urusan akomodasi sudah dipesan dari 1 bulan sebelumnya. Kami memilih Jeeva Klui untuk honeymoon karena melalui foto-foto nya tempat ini terlihat bagaikan sanctuary yang tenang dan damai. Lagipula harga yang ditawarkan juga sesuai dengan budget yang kami anggarkan.

Hari Pertama Honeymoon

Kami tiba di bandar udara Lombok siang hari dan langsung dijemput oleh mobil sewaan. Ternyata jarak dari airport ke Jeeva Klui lumayan juga, sekitar 1,5 jam perjalanan tanpa macet. Untungnya jalan darat di Lombok sudah sangat layak sehingga perjalanan kami terasa mulus. Setiba nya di Jeeva, kami check-in di Ananda Segarra Beachfront Villa yang letaknya tepat di depan pantai. Setelah tertakjub-takjub melihat kamar kami dan beristirahat sejenak, kami menikmati sunset yang terlihat jelas dari teras kamar sambil tidur-tiduran lalu makan malam di The Waroeng, restaurant outdoor yang berada di depan swimming pool Jeeva Klui. Makanan nya enak, harga nya reasonable dan pemandangan langit malam nya indah sekali!

Hari Kedua Honeymoon

Besok nya setelah sarapan ditemani view dan semilir angin pantai, kami jalan-jalan ke Bukit Merese dan Pantai Tanjung Aan di Lombok Tengah. Kedua lokasi itu kami tempuh dalam waktu 2 jam perjalanan tanpa macet dari Jeeva. Sayang saat kami kesana sedang musim kering sehingga Bukit Merese nya tidak berwarna hijau seperti di foto-foto. Jadi setelah merasakan halusnya pasir putih di Pantai Aan, kami memutuskan untuk kembali ke hotel sambil mampir makan siang di Ayam Taliwang Irama yang hits di Mataram.

Sesampainya di hotel, kami istirahat sebentar sambil menikmati snack sore di The Waroeng lalu menikmati compliment berupa serenity massage di Jeevaniya Spa. Dipijat seluruh badan oleh therapist handal sambil merasakan angin pantai yang sepoi-sepoi dan mendengar suara ombak ternyata menenangkan sekali! Sayang karena hanya compliment, durasi pijat nya hanya 30 menit.

Setelah pijat, sekitar pukul 5 sore, dengan random¬†saya mengajak Ray untuk pergi ke Bukit¬†Malimbu, yang menurut¬†salah seorang¬†petugas resort memiliki pemandangan sunset yang indah dan lokasi yang tidak terlalu jauh dari resort. Karena waktu sunset sudah sangat dekat, kami pun berkejar-kejaran dengan matahari untuk mencapai lokasi Bukit Malimbu bermodalkan Waze. Di luar ekspektasi, Bukit Malimbu ternyata hanya berupa kelokan jalan raya yang cukup besar dan berbatasan langsung dengan laut dengan trotoar untuk duduk-duduk. Dari kelokan jalan raya tersebut, terlihat jelas garis pantai dan matahari yang perlahan turun. Banyak tukang jagung dan ikan bakar berjualan disana tapi tidak ada tempat duduk. Setengah tertawa, Ray bilang “yaah ini mah mending lihat sunset dari teras kamar, bisa sambil tidur-tiduran” dan saya pun hanya bisa cengengesan setuju.

Hari Terakhir Honeymoon

Besok nya, karena ingin menikmati suasana honeymoon, saya dan Ray memutuskan untuk leyeh-leyeh di Jeeva seharian. Kami meminjam peralatan snorkeling di front office lalu snorkeling di pantai depan kamar. Setelah itu kami berenang di swimming pool, tidur-tidur an, asik-asik an di kamar (ya iyalah kan lagi honeymoon hehe) foto-foto, dan main game board di perpustakaan Jeeva. Pokoknya relax seharian sambil ngobrol tentang masa depan sebelum besok nya harus check-out dan kembali ke kebisingan kota Jakarta.

Menurut saya (dan Ray) dana yang kami keluarkan untuk membayar akomodasi di Jeeva worthed every rupiah karena tempat nya bagus dan service nya pun jempolan. Sambil ngetik cerita tentang honeymoon ini rasanya saya masih bisa merasakan semilir angin pantai dan aroma khas shower gel yang disediakan disana.

Jojo – xx

Our Best Day EVER: 28 November 2015

Sejak saya kecil, saya selalu berharap untuk bisa menikah di usia 27 tahun. Kenapa 27 tahun? Karena menurut saya di usia itu kita sudah cukup umur untuk berkomitmen serius dan mengambil keputusan besar seumur hidup tapi juga tidak terlalu tua untuk memiliki anak dan berkeluarga. Tuhan mendengar doa saya dan saya pun menikah di usia 27 tahun.

Sejak awal merencanakan pernikahan, saya dan Ray menginginkan pernikahan yang modern, intimate dan terasa personal. Kami menginginkan tamu-tamu yang hadir di pernikahan kami tidak sekedar datang-bersalaman dengan pengantin di panggung-makan-lalu pulang seperti typical acara pernikahan di Indonesia. Tapi ikut tertawa, berfoto, joget gila-gilaan, saling berinteraksi satu sama lain dan ikut merasakan kebahagiaan dan kehangatan di hari bahagia kami. Karena nya kami tidak mengundang terlalu banyak orang. Tamu-tamu yang datang di pernikahan kami adalah orang-orang terdekat kami, sahabat dan keluarga.

THE CEREMONY. Kami memulai hari bahagia kami dengan saling mengucap janji sehidup semati dan bertukar cincin di GKI Pondok Indah. Saya berjalan ke altar bersama Bapak diiringi lagu Hoppipolla dari Sigur Ros. It was beautiful and brought some tears. A happy one tho. Perjalanan menuju gereja juga tidak akan saya lupakan, Ray menyetir sendiri mobil pertama yang kami beli berdua dari Hotel Bellevue Pondok Indah lalu kami (sempat-sempatnya) mampir ke Fatburger lengkap dengan baju pengantin dan full make-up karena kelaparan!

DIY WEDDING.¬†Undangan kami di design oleh salah seorang sahabat SMA saya dan saya menggunakan design undangan tersebut sebagai reference untuk melengkapi semua printilan kecil seperti cake topper, wedding ring box, ceremony book, souvenir tag, dan wedding program. Ratusan kue kotak konsumsi di acara pemberkatan, dibuat dengan penuh cinta oleh Ibu Kost saya, dan cincin pernikahan kami dibuat oleh Ibu saya. Designnya simple tapi terasa¬†meaningful untuk kami berdua.¬†Bouquet bunga saya dibuat oleh salah seorang sahabat Mama mertua, sementara kedua bridesmaids saya begadang semalaman sambil maskeran untuk menjahit tangan “Here Comes The Brides” banner sebagai pemanis saat saya berjalan menuju altar. Oh,¬†dan band yang mengiringi acara pernikahan kami adalah band yang terdiri dari sahabat-sahabat Kakak Ray.

VENDORS. Semua vendor yang kami sewa juga sangat membantu kelancaran acara pernikahan kami. We are so  blessed to have lots of helps from them! Mereka semua communicative dan cepat tanggap. Dekorasi venue sesuai dengan yang kami harapkan dan makanan yang disajikan juga berkesan bagi semua tamu kami karena walaupun dimasak tanpa MSG dan less salt sesuai request tapi rasanya tetap enak dan berlimpah hingga acara selesai. Menu minuman di pernikahan kami juga lebih sehat karena dari awal saya dan Ray request untuk menghilangkan minuman soda dan menggantinya dengan es teh sereh yang segar. Photographer dan videographer kami yang masih muda-muda pintar membaur dan berinteraksi dengan para tamu sehingga foto-foto dan video yang dihasilkan terlihat natural. Make up yang saya gunakan juga just the way I imagined it, natural and not too much. Sementara gaun pernikahan saya terlihat sangat simple tapi detail nya cantik dan tetap memudahkan saya bergerak kesana kemari.

THE NIGHT. Pernikahan impian kami terwujud ketika para tamu undangan datang dan ikut menikmati hari bahagia kami. Mereka datang, saling bertegur sapa, menikmati hidangan, dan tertawa bersama. We’re the ones coming to them, greeting them personally and casually, giggling and hugging (lots of hugs!), meet with the elders who like to give advice and prayers for us, and take as many pictures as we like, with so many different poses as we like. Dan di akhir acara, kami semua asyik bergoyang di depan panggung diiringi lagu-lagu The Beatles yang dibawakan oleh Papa Ray. It’s really intimate and personal. We enjoyed every seconds of it.

Itu sedikit cerita tentang hari pernikahan kami. We wouldn’t have it the other way if we were given a second chance.

It was our best day.

 

Jojo – xx