What did You Learn This Year?

What did you learn at 2017? I learned about time. About how everything (really) happens on its own time.

2017 sudah hampir berakhir dan kalau bisa merangkum pembelajaran apa yang saya dapat selama tahun ini, bisa dipastikan saya akan menjawab seperti di atas. Saya belajar tentang bagaimana segala sesuatu sudah diatur sedemikian rupa oleh Bapa di Surga dan terjadi tepat pada waktu nya. Waktu yang terbaik untuk kita.

Sedikit flash back ke bulan Maret, dimana saya masuk kantor untuk pertama kali setelah cuti melahirkan selesai. Bapa tahu, saya butuh waktu untuk merawat bayi mungil titipan Nya sepenuh hati. Karena nya Dia membuat pekerjaan saya di kantor waktu itu selama kurang lebih 7 bulan menjadi sangat lenggang. Banyak waktu kosong yang bisa saya gunakan untuk pumping, banyak kesempatan untuk menemani Arka di rumah, serta Dia bahkan memberi teman-teman seperjuangan (ibu pumping) yang lucu-lucu untuk berbagi ilmu parenting dan kesehatan anak.

Pun disaat yang tepat (sekitar bulan November) Bapa tahu situasi dan kondisi mengharuskan saya banyak di rumah karena mertua akan sibuk mengurus satu dua urusan di luar rumah yang tidak memungkinkan untuk membawa Arka. Dia memberi kesempatan (melalui tawaran pekerjaan baru 2 minggu sebelum nya) sehingga saat itu saya yang sedang dalam one month notice cukup fleksibel untuk sering ijin menjaga Arka di rumah saat mertua pergi.

Begitu tepat waktu nya memberi saya kesempatan baru dalam hal pekerjaan hingga Dia menunggu Arka hampir setahun dan memberi kesempatan melalui pekerjaan yang sesuai permintaan saya, merupakan bidang baru dimana saya bisa banyak belajar.

Melalui semua pembelajaran ini, saya merasa Bapa mau mengajarkan saya bahwa segala sesuatu memang lebih indah jika terjadi pada waktu nya dan bahwa Dia selalu ada serta mendengar doa saya, sesuai dengan janji Nya. Saya hanya perlu untuk lebih percaya dan berserah seutuhnya pada Nya.

Selamat menyambut 2018! Don’t forget to ask yourself: what did you learn this year?

Jojo – xx

Advertisements

SG Trip Day 3: Singapore Zoo, Orchard

Hari ketiga di Singapura puji Tuhan cuaca ceraaaah! Sambil menunggu Ray bersiap-siap, saya dan Arka jalan-jalan pagi di sekitar hotel sambil membeli sarapan di Food Republic. Setelah perut diisi, kami pun berangkat menuju Singapore Zoo. Dibanding dengan tujuan-tujuan di 2 hari pertama, jalur MRT ke Singapore Zoo lumayan panjang. Kami harus naik MRT ke Stasiun MRT Khatib untuk kemudian menyambung Bus Mandalay Express dengan tarif SGD $1 yang khusus beroperasi mengantar penumpang secara langsung (tidak berhenti-berhenti di halte bus lain) dari Stasiun MRT Khatib ke Singapore Zoo.

Sampai Singapore Zoo, kami melihat berbagai hewan. Hewan yang paling disukai Arka antara lain: baboon, gajah, zebra dan beruang kutub. Kami berkeliling dari ujung ke ujung hingga akhirnya tiba waktu makan siang. Karena mau praktis, saya dan Ray pun makan di restaurant fast food yang ada disana, sementara Arka makan roti gandum bekal dari hotel. Selesai bermain di kebun binatang, kami kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat.

Saat mengajak anak travelling, salah satu saran saya untuk menjaga mood anak adalah dengan tetap memperhatikan kebutuhan makan, minum dan istirahat anak. Atur lah itinerary sebaik mungkin, jangan terlalu ambisius saat mengatur jadwal, buatlah sebisa mungkin ada 1-2 jam waktu istirahat di hotel di tengah padatnya aktifitas agar anak bisa meregangkan badan atau mendapat tidur berkualitas di kasur yang nyaman.

Malam hari setelah beristirahat, kami pergi ke Orchard untuk melihat suasana Natal. Setelah itu kami kembali ke hotel, packing lalu beristirahat karena besok harus kembali ke Jakarta.

Masih ada cerita hari ke-4 di postingan selanjutnya …

Jojo – xx

SG Trip Day 2: SEA Aquarium, Siloso Beach, Haji Lane, Chinatown

Hari kedua di Singapore, cuaca yang mendung dan gerimis dari pagi kurang mendukung perjalanan ke Kebun Binatang. Akhirnya kami memutuskan untuk switch itinerary dan pergi ke SEA Aquarium (yang indoor) di Sentosa. Arka super senang dan semangat melihat ikan hiu berenang mondar mandi di depan mata dan atas kepala nya. Sementara saya girang melihat sting ray, ubur-ubur dan corndog hehe.

Dari SEA Aquarium, karena gerimis sudah reda, saya dan Ray memutuskan untuk berjalan menuju Pantai Siloso (naik monorail dulu tentunya) sambil mencari makan siang selagi Arka tidur di stroller. Membawa stroller di perjalanan kali ini adalah keputusan yang paling tepat, barang bawaan memang bertambah tapi Arka setidaknya bisa tidur lebih nyaman dan Mama Papa tidak perlu kecapekan gendong kesana kemari!

Setiba nya di Siloso, Arka bangun dan dia pun merangkak kesana kemari di pasir menikmati pantai pertama nya dengan sangat excited sampai menolak dimandikan karena masih ingin bermain ombak! Dari Sentosa kami pulang ke hotel untuk bebersih dan selonjoran di kasur bobo siang.

Sore hari nya kami berjalan kaki ke Haji Lane yang berada di sekitar Bugis MRT Station lalu ke Chinatown untuk mencoba “the cheapest Michelin-starred meal in the world” di Liao Fan Hawker Chan yang berlokasi di Smith St. (keluar exit A Chinatown MRT Station, lalu belok kiri, dan ikuti jalan sampai menemukan Smith St.) Hidangan utama nya berupa chicken rice seharga SGD 3$-5$ dan kami cukup beruntung karena walaupun ramai, antrian nya masih bisa ditoleransi dan kami mendapat tempat duduk. Rasa makanan nya enak, tapi sayang makan nya harus buru-buru karena meja nya sudah ditunggu oleh orang lain yang mau makan.

Lanjut ke postingan hari ketiga …..

Jojo – xx

SG Trip Day 1: Marina Bay, Gardens by The Bay

Minggu lalu kami sekeluarga liburan ke Singapura. First experience untuk kami sekeluarga pergi jauh bertiga dengan menggunakan pesawat. Karena nya, untuk mengantisipasi keribetan di perjalanan, saya memilih jam terbang di jam tidur Arka, memakai baju yang nursing friendly, menyiapkan snack di tas cabin dan membawa barang-barang seperlunya saja.

Karena sekarang kami travelling dengan membawa bayi, saya dan Ray yang tadinya lebih suka menggunakan backpack ketimbang koper harus berpindah haluan menjadi team koper untuk meminimalisir barang bawaan. Beberapa minggu sebelum perjalanan, saya dan Ray membeli koper yang lebih besar dan lebih kuat dari yang kami punya sekarang. Hitung-hitung sekalian investasi untuk kebutuhan perjalanan keluarga kami ke depannya. Untuk kepraktisan, kami juga menyewa cabin sized stroller yang mudah dilipat dan dibawa di salah satu situs penyewaan perlengkapan bayi. Dengan begini barang bawaan kami terdiri dari: 1 koper ukuran large, 1 stroller yang bisa dijadikan tas punggung, 1 daypack yang kami fungsikan sebagai diapers bag, dan 1 gendongan hipseat.

Selain persiapan barang bawaan, tiket masuk tempat wisata juga sudah kami beli sebelum berangkat untuk menghindari antrian di lokasi dan untuk menghemat budget. Saran saya kalau membawa anak kecil cari tiket yang open date, just in case cuaca atau kondisi di tempat tujuan mengharuskan pergantian itinerary. Itinerary juga wajib disusun terlebih dahulu agar di tujuan sudah tidak bingung mau kemana.

Kami berangkat dari terminal 2 SHIA ke terminal 4 Changi Airport (yang baru). Selama perjalanan di udara, apa yang saya khawatirkan tidak terjadi. Arka tidur dengan pulas dan bangun sekitar 10 menit sebelum pesawat landing. Dari terminal 4 Changi Airport kami naik bus ke terminal 2, membeli kartu ezlink, lalu naik MRT ke hotel kami; 30 Bencoolen yang letaknya tepat di seberang Stasiun MRT Bencoolen dan diapit oleh Stasiun MRT Bras Basah dan Stasiun MRT Bugis.

Setelah check-in, mandi dan istirahat sejenak, kami pergi menuju Marina Bay untuk mencari makan malam sekaligus foto-foto. Dari Marina Bay kami berjalan kaki menuju Gardens by The Bay menikmati lampu-lampu taman sampai malam. Sambil pulang ke hotel, kami membeli makan malam di Food Republic (foodcourt) yang terletak di sebelah hotel kami.

Lanjut ke postingan hari kedua …..

Jojo – xx

One Month Being a Parents 

Wow what a month! I can’t lie and say having a baby is all rainbows and unicorns, because it is not. 

Satu minggu pertama setelah Arka pulang dari rumah sakit terasa melelahkan sekaligus seru untuk saya. Jam tidur Arka yang belum tentu, penggunaan popok kain dan puting payudara yang masih sangat sakit saat dipakai menyusui cukup membuat saya dan Ray kewalahan. Apalagi Arka sempat mengalami kuning akibat perbedaan golongan darah dengan saya (breastmilk jaundice) dan saya sempat mengalami breast engorgement atau pembengkakan pada payudara akibat produksi susu yang tiba-tiba melimpah hingga menyebabkan meriang dan demam. Untung nya Arka bayi yang manis dan pintar sekali. Setelah melalui masa orientasi 2 minggu (dan setelah akhirnya memakai popok sekali pakai), perlahan-lahan jam tidurnya mulai teratur. Arka hanya bangun malam setiap 3 jam sekali untuk menyusu dan berganti popok.

Saya dan Ray pun sudah semakin terbiasa dengan jam malam Arka dan mulai pintar menenangkan tangisan Arka. Memang benar yang dikatakan oleh hampir semua orang, kalau Ibu nya tenang maka bayi nya juga akan tenang. Dan disini lah peran suami sebagai team-partner. Saya merasa sangat beruntung memiliki pasangan seperti Ray yang bisa menenangkan serta membuat saya santai dalam menghadapi berbagai situasi sehingga Arka juga menjadi lebih tenang dan mudah diajak bekerja sama. Lama tangisan nya paling-paling kalau ditotal hanya 10-20 menit per hari. 

Berbicara tentang peran suami sebagai team-partner, saya sangat terbantu dengan kehadiran suami saya karena Ray tipikal Papa yang selalu terlibat dengan segala hal yang berhubungan dengan Arka. Walaupun saya tahu Ray sudah cukup lelah karena bekerja di siang hari nya, dia tidak pernah menolak membantu saya mengganti popok atau menggendong menidurkan Arka saat malam sehingga saya mendapat sedikit break time. Bonding antara Ray dan Arka pun cukup besar, Arka misalnya selalu menolak untuk tidur di jam-jam Ray pulang kerja. Atau kalau pun tidur, dia pasti tetap akan bangun sebentar walaupun hanya untuk mendengar suara Papa nya.

It was tiring and tough but having a baby surely does fun and precious. And we’re soaking it all, the good times and bad times, because we know these moments will be missed one day and can not be repeat.


Jojo – xx

Cerita di Balik Sebuah Nama

Di pertengahan kehamilan, saya dan Ray banyak berdiskusi soal nama anak kami kelak. Apalagi karena kami sudah mengetahui jenis kelamin anak kami sejak bulan ke-4. Dari awal kami sepakat untuk hanya menggunakan 3 kata agar nama anak kami tidak terlalu panjang karena kasihan nanti saat ujian sekolah atau mengisi formulir apapun waktu nya bisa habis untuk menulis nama. Kami juga sepakat untuk memberikan nama dengan awalan alphabet “A” agar selalu terdepan di absensi atau di antrian yang menggunakan nama (apa banget).

Nama pertama yang kami sepakati waktu itu adalah: Alexandr Leon Passandaran. Dengan harapan anak laki-laki kami kelak bisa menjadi anak yang tough, berani dan perkasa seperti singa. Tapi saat kandungan saya berumur 8 bulan, nama tersebut mendapat pertentangan dari Ibu saya dengan alasan “anak yang bernama Leon biasanya nakal” karena sebenarnya dalam hati saya juga masih kurang sreg dengan nama tersebut (karena agak sedikit meaningless), akhirnya kami memutuskan untuk mencari nama baru.

Mencari nama anak ternyata tidak semudah itu karena banyak orang bilang nama adalah doa dan (walaupun mungkin bisa diganti) nama akan berlaku seumur hidup si anak. 2 minggu berlalu begitu saja, saya dan Ray masih belum mendapat nama hingga akhirnya suatu hari saya mendapat ide “nama saya mengandung unsur cahaya (bright) dan nama suami saya juga mengandung unsur cahaya (ray), jadi sepertinya make sense kalau nama anak kami juga mengandung unsur cahaya” berawal dari ide itu, kami pun mulai mencari nama yang memiliki unsur cahaya hingga akhirnya kami menemukan nama Arka di bahasa sansekerta yang artinya “Sun” atau “Ray of Light” 

First name sudah didapat, PR selanjutnya adalah mencari middle name untuk nama Arka. Pencerahan datang dari sahabat saya yang menyarankan untuk menggunakan nama Santo atau Santa yang perayaan nama nya disesuaikan dengan bulan kelahiran anak saya (Januari). Setelah browsing, saya pun menemukan nama Timothy dari Santo Timotius yang memiliki arti lain “Honoring God”. Setelah coba dirangkai pun nama Arka dan Timothy terdengar cocok. Nama anak kami pun dilengkapi dengan nama keluarga Passandaran dari Papa nya.

Arka Timothy Passandaran. Ray of bright light who honoring his God from Passandaran’s family.



Jojo – xx

Here Comes the Sun, Our Son

My bebe is born! Cerita kelahiran Arka dimulai saat kandungan saya menginjak usia 39 minggu. Dengan due date yang semakin dekat (19 Januari 2017) saya semakin deg-deg an karena belum ada tanda-tanda mau melahirkan, padahal saya sangat menginginkan persalinan normal. Jalan kaki pun semakin digencarkan sampai satu ketika di tanggal 15 Januari 2017 malam, saking ingin nya segera melahirkan, saya dan Ray jalan-jalan keliling Grand Indonesia sampai perut saya terasa sakit. Setelah whatsapp-an sama obgyn akhirnya diputuskan bahwa saya harus ke RS untuk di observasi. Setelah observasi (dan pemeriksaan dalam yang sakit itu), ternyata saya baru pembukaan 1 dan diperbolehkan pulang oleh bidan jaga.

Tanggal 17 Januari 2017, dini hari sekitar pk 02.00 saya terbangun karena merasakan kontraksi. Setelah dihitung menggunakan app ternyata kontraksi nya sudah berjalan teratur 2x setiap 10 menit. Akhirnya pk 05.30 pagi dengan kontraksi yang masih teratur, kami pun berangkat ke RS. Saat observasi di RS ternyata saya sudah pembukaan 2 dan diminta untuk stay di RS. Karena sampai malam hari saat diperiksa masih pembukaan 4, obgyn pun memberi saya obat pereda nyeri agar malam ini bisa beristirahat dan diperkirakan Arka akan lahir keesokan hari nya. Biarpun sudah diberi pereda nyeri, malam itu terasa sangat menyiksa untuk saya. Setiap 10 menit sekali saya terbangun karena kontraksi. Ray pun jadi tumbal remas-remas saya karena (walaupun hampir beku kedinginan) dia dengan setia menemani saya di ruang kala 1 malam itu.

Keesokan hari nya tanggal 18 Januari 2017, karena masih pembukaan 5 namun frekuensi kontraksi berkurang menjadi 10 menit sekali akhirnya pk 09.00 pagi saya diinduksi. Pk 13.00 saat diperiksa kembali, pembukaan sudah bertambah menjadi 8 hingga diputuskan untuk memindahkan saya ke ruang bersalin untuk dilakukan pemecahan air ketuban. Setelah air ketuban dipecah, pembukaan berjalan sangat cepat hingga akhirnya pk 14.00 dimulailah proses mengejan. Sekali, dua kali mengejan, Arka masih belum terdorong keluar. Karena minus mata saya yang cukup besar, obgyn pun menggunakan vacuum untuk membantu persalinan. Tidak lama setelah vacuum dimasukan pk 14.27 Arka pun lahir ke dunia sehat, lengkap, sempurna dengan berat 3,2150 kg dan panjang 50 cm. Ray menangis terharu sementara saya melakukan kontak skin to skin dan IMD (yang sukses dalam percobaan pertama) dengan Arka sambil mendapat jahitan di bawah sana.

Jojo – xx